Samarinda — Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mulawarman bersama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dan Fakultas Hukum (FH) Universitas Mulawarman berkolaborasi menyelenggarakan International Conference on Indigenous Knowledge and Human Sustainability (IKSHA) 2026, pada 29–30 September 2026.

Konferensi internasional yang dilaksanakan secara hibrida ini mengusung tema “Preserving Knowledge, Empowering Education, Sustaining Culture”, dengan menghadirkan akademisi, peneliti, praktisi, serta berbagai pemangku kepentingan untuk mendiskusikan pengetahuan lokal dan relevansinya terhadap pendidikan, budaya, masyarakat, serta keberlanjutan. IKSHA 2026 secara resmi dibuka pada Selasa, 29 September 2026, di Gedung Prof. Dr. Masjaya, M.Si., UNMUL Hub, Samarinda. 

Bagi FKIP Universitas Mulawarman, keterlibatan dalam penyelenggaraan IKSHA 2026 menjadi bagian dari komitmen fakultas dalam memperkuat internasionalisasi pendidikan sekaligus membuka ruang dialog akademik yang menghubungkan pendidikan dengan pengetahuan lokal, kebudayaan, bahasa, dan keberlanjutan. Kolaborasi lintas fakultas dalam konferensi ini juga mencerminkan pentingnya pendekatan multidisipliner dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan manusia dan pelestarian kearifan lokal.

Keterlibatan FKIP UNMUL dalam pelaksanaan konferensi juga tercermin dalam struktur kepanitiaan IKSHA 2026. Dekan FKIP Universitas Mulawarman, Prof. Dr. Susilo, M.Pd., tercatat sebagai salah satu anggota Steering Committee. Sementara itu, kepanitiaan pelaksana dipimpin oleh Dr.phil. Maria Teodora Ping, M.Sc., serta melibatkan dosen dan tenaga kependidikan dari berbagai fakultas dalam bidang program, publikasi, hubungan masyarakat, dokumentasi, hingga penelaahan ilmiah.

Rangkaian hari pertama IKSHA 2026 diawali dengan pembukaan dan dilanjutkan dengan sejumlah keynote speech. Salah satu pembicara utama, Dr. Paul Monaghan dari The University of Adelaide, membawakan materi “Aboriginal Living Languages SA: A Digital Tool for Language Revival in South Australia”. Pembicara berikutnya, Dr. G. Simon Devung, M.Pd., M.Si., yang merupakan tetua adat Dayak Bahau, membahas keberagaman pengetahuan lokal di Kalimantan Timur. Selain itu, Prof. Dr. Sunardi, S.S., M.Hum. dari Universitas Mulawarman turut hadir sebagai pembicara utama. 

Dalam berita resmi Universitas Mulawarman, Ketua Konsorsium Konferensi Prof. Dr. Sunardi, S.S., M.Hum. menjelaskan bahwa IKSHA berkembang dari kolaborasi akademik antara Universitas Mulawarman dan The University of Adelaide yang telah berlangsung sejak 2011. Kolaborasi tersebut kemudian berkembang dari simposium berskala kecil menjadi konferensi lintas disiplin yang melibatkan lebih banyak fakultas, perguruan tinggi, dan negara. IKSHA juga diarahkan tidak sekadar menjadi konferensi tahunan, tetapi sebagai wadah pengembangan kolaborasi, publikasi, dan kemitraan akademik jangka panjang. 

Setelah sesi pembicara utama, konferensi dilanjutkan dengan berbagai parallel session yang diselenggarakan secara luring dan daring. Topik yang dipresentasikan sangat beragam, mulai dari bahasa dan sastra, pendidikan berbasis kearifan lokal, pengetahuan ekologis masyarakat adat, komunikasi, kebijakan dan perlindungan masyarakat adat, hingga pengelolaan lingkungan dan pariwisata berkelanjutan. Sejumlah kajian juga secara khusus mengangkat konteks Kalimantan Timur, seperti pengetahuan ekologis masyarakat Dayak, konservasi Hutan Adat Hemaq Beniung, budaya masyarakat di sepanjang Sungai Mahakam, pengetahuan lokal masyarakat pesisir Kepulauan Derawan, serta pendidikan bahasa daerah Paser. 

Perspektif pendidikan menjadi salah satu bagian penting dalam IKSHA 2026. Sejumlah penelitian membahas kesiapan guru dan tantangan pembelajaran bahasa daerah Paser pada peserta didik sekolah dasar multikultural, evaluasi pendidikan berbasis kearifan lokal di sekolah-sekolah Samarinda, hingga pemanfaatan storytelling sebagai perangkat pedagogis untuk menjembatani budaya, kognisi, dan praktik pembelajaran. 

Pada hari kedua, 30 September 2026, konferensi dilanjutkan dengan menghadirkan sejumlah invited speakers, di antaranya Dr. Muzakki Bashori, S.Pd., M.A. dari Universitas Negeri Semarang; Prof. James Cohen, Ph.D. dari Northern Illinois University; serta Prof. Conciliannus Laos Mbato, M.A., Ed.D. dari Universitas Sanata Dharma. Sesi tersebut dilaksanakan secara daring sebagai bagian dari format hibrida konferensi. 

Melalui keterlibatan dalam IKSHA 2026, FKIP Universitas Mulawarman bersama FISIP dan Fakultas Hukum berupaya memperluas ruang kolaborasi akademik yang mempertemukan perspektif pendidikan, sosial, hukum, budaya, serta pengetahuan masyarakat lokal. Konferensi ini sekaligus menjadi kesempatan untuk menempatkan kekayaan pengetahuan dan budaya Kalimantan Timur dalam diskursus akademik yang lebih luas di tingkat nasional maupun internasional.

Penyelenggaraan IKSHA 2026 diharapkan tidak berhenti pada pertukaran gagasan selama konferensi, tetapi dapat berkembang menjadi jejaring penelitian, publikasi ilmiah, kerja sama kelembagaan, serta berbagai inisiatif pendidikan yang mendukung pelestarian pengetahuan lokal dan keberlanjutan manusia.



Humas dan TI FKIP (cik)
Universitas Mulawarman

agenda humasfkip_cik